RSS

pendidikan orang dewasa

Artikel:
ANDRAGOGI (Sebuah Konsep Teoritik)

 

Judul: ANDRAGOGI (Sebuah Konsep Teoritik)
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): SUPRIADI, M.Pd 
Saya Dosen di STAIN Bukittinggi 
Topik: Pembelajaran Orang Dewasa 
Tanggal: 21 Maret 2006
 

ANDRAGOGI 
(Sebuah Konsep Teoritik)
 

A. Pengertian 

Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang dewasa dan agogos berarti memimpin. Perdefinisi andragogi kemudian dirumuskan sebagau “Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar”. Kata andragogi pertama kali digunakan oleh Alexander Kapp pada tahun 1883 untuk menjelaskan dan merumuskan konsep-konsep dasar teori pendidikan Plato. Meskipun demikian, Kapp tetap membedakan antara pengertian “Social-pedagogy” yang menyiratkan arti pendidikan orang dewasa, dengan andragogi. Dalam rumusan Kapp, “Social-pedagogy” lebih merupakan proses pendidikan pemulihan (remedial) bagi orang dewasa yang cacat. Adapun andragogi, justru lebih merupakan proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa, cacat atau tidak cacat secara berkelanjutan. 

B. Andragogi dan Pedagogi 

Malcolm Knowles menyatakan bahwa apa yang kita ketahui tentang belajar selama ini adalah merupakan kesimpulan dari berbagai kajian terhadap perilaku kanak-kanak dan binatang percobaan tertentu. Pada umumnya memang, apa yang kita ketahui kemudian tentang mengajar juga merupakan hasil kesimpulan dari pengalaman mengajar terhadap anak-anak. Sebagian besar teori belajar-mengajar, didasarkan pada perumusan konsep pendidikan sebagai suatu proses pengalihan kebudayaan. Atas dasar teori-teori dan asumsi itulah kemudian tercetus istilah “pedagogi” yang akar-akarnya berasal dari bahasa Yunani, paid berarti kanak-kanak dan agogos berarti memimpin. Kemudian Pedagogi mengandung arti memimpin anak-anak atau perdefinisi diartikan secara khusus sebagai “suatu ilmu dan seni mengajar kanak-kanak”. Akhirnya pedagogi kemudian didefinisikan secara umum sebagai “ilmu dan seni mengajar”. 

Untuk memahami perbedaan antara pengertian pedagogi dengan pengertian andragogi yang telah dikemukakan, harus dilihat terlebih dahulu empat perbedaan mendasar, yaitu : 

1. Citra Diri 

Citra diri seorang anak-anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Pada saat anak itu menjadi dewasa, ia menjadi kian sadar dan merasa bahwa ia dapat membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Perubahan dari citra ketergantungan kepada orang lain menjadi citra mandiri. Hal ini disebut sebagai pencapaian tingkat kematangan psikologis atau tahap masa dewasa. Dengan demikian, orang yang telah mencapai masa dewasa akan berkecil hati apabila diperlakukan sebagai anak-anak. Dalam masa dewasa ini, seseorang telah memiliki kemauan untuk mengarahkan diri sendiri untuk belajar. Dorongan hati untuk belajar terus berkembang dan seringkali justru berkembang sedemikian kuat untuk terus melanjutkan proses belajarnya tanpa batas. Implikasi dari keadaan tersebut adalah dalam hal hubungan antara guru dan murid. Pada proses andragogi, hubungan itu bersifat timbal balik dan saling membantu. Pada proses pedagogi, hubungan itu lebih ditentukan oleh guru dan bersifat mengarah. 

2. Pengalaman 

Orang dewasa dalam hidupnya mempunyai banyak pengalaman yang sangat beraneka. Pada anak-anak, pengalaman itu justru hal yang baru sama sekali.Anak-anak memang mengalami banyak hal, namun belum berlangsung sedemikian sering. Dalam pendekatan proses andragogi, pengalaman orang dewasa justru dianggap sebagai sumber belajar yang sangat kaya. Dalam pendekatan proses pedagogi, pengalaman itu justru dialihkan dari pihak guru ke pihak murid. Sebagian besar proses belajar dalam pendekatan pedagogi, karena itu, dilaksanakan dengan cara-cara komunikasi satu arah, seperti ; ceramah, penguasaan kemampuan membaca dan sebagainya. Pada proses andragogi, cara-cara yang ditempuh lebih bersifat diskusi kelompok, simulasi, permainan peran dan lain-lain. Dalam proses seperti itu, maka semua pengalaman peserta didik dapat didayagunakan sebagai sumber belajar. 

3. Kesiapan Belajar 

Perbedaan ketiga antara pedagogi dan andragogi adalah dalam hal pemilihan isi pelajaran. Dalam pendekatan pedagogi, gurulah yang memutuskan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses pemilihannya, serta kapan waktu hal tersebut akan diajarkan. Dalam pendekatan andragogi, peserta didiklah yang memutuskan apa yang akan dipelajarinya berdasarkan kebutuhannya sendiri. Guru sebagai fasilitator. 

4. Nirwana Waktu dan Arah Belajar 

Pendidikan seringkali dipandang sebagai upaya mempersiapkan anak didik untuk masa depan. Dalam pendekatan andragogi, belajar dipandang sebagai suatu proses pemecahan masalah ketimbang sebagai proses pemberian mata pelajaran tertentu. Karena itu, andragogi merupakan suatu proses penemuan dan pemecahan masalah nyata pada masa kini. Arah pencapaiannya adalah penemuan suatu situasi yang lebih baik, suatu tujuan yang sengaja diciptakan, suatu pengalaman pribadi, suatu pengalaman kolektif atau suatu kemungkinan pengembangan berdasarkan kenyataan yang ada saat ini. Untuk menemukan “dimana kita sekarang” dan “kemana kita akan pergi”, itulah pusat kegiatan dalam proses andragogi. Maka belajar dalam pendekatan andragogi adalah berarti “memecahkan masalah hari ini”, sedangkan pada pendekatan pedagogi, belajar itu justru merupakan proses pengumpulan informasi yang sedang dipelajari yang akan digunakan suatu waktu kelak. 

C. Langkah-langkah Pelaksanaan Andragogi 

Langkah-langkah kegiatan dan pengorganisasian program pendidikan yang menggunakan asas-asas pendekatan andragogi, selalu melibatkan tujuh proses sebagai berikut : 

1. Menciptakan iklim untuk belajar 
2. Menyusun suatu bentuk perencanaan kegiatan secara bersama dan saling membantu 
3. Menilai atau mengidentifikasikan minat, kebutuhan dan nilai-nilai 
4. Merumuskan tujuan belajar 
5. Merancang kegiatan belajar 
6. Melaksanakan kegiatan belajar 
7. Mengevaluasi hasil belajar (menilai kembali pemenuhan minat, kebutuhan dan pencapaian nilai-nilai. 

Andragogi dapat disimpulkan sebagai : 

1. Cara untuk belajar secara langsung dari pengalaman 
2. Suatu proses pendidikan kembali yang dapat mengurangi konflik-konflik sosial, melalui kegiatan-kegiatan antar pribadi dalam kelompok belajar itu 
3. Suatu proses belajar yang diarahkan sendiri, dimana kira secara terus menerus dapat menilai kembali kebutuhan belajar yang timbul dari tuntutan situasi yang selalu berubah. 

D. Prinsip-prinsip Belajar untuk Orang Dewasa 

1. Orang dewasa belajar dengan baik apabila dia secara penuh ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan 
2. Orang dewasa belajar dengan baik apabila menyangkut mana yang menarik bagi dia dan ada kaitan dengan kehidupannya sehari-hari. 
3. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila apa yang ia pelajari bermanfaat dan praktis 
4. Dorongan semangat dan pengulangan yang terus menerus akan membantu seseorang belajar lebih baik 
5. Orang dewasa belajar sebaik mungkin apabila ia mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh pengetahuannya, kemampuannya dan keterampilannya dalam waktu yang cukup 
6. Proses belajar dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman lalu dan daya pikir dari warga belajar 
7. Saling pengertian yang baik dan sesuai dengan ciri-ciri utama dari orang dewasa membantu pencapaian tujuan dalam belajar. 

E. Karakteristik Warga Belajar Dewasa 

1. Orang dewasa mempunyai pengalaman-pengalaman yang berbeda-beda 
2. Orang dewasa yang miskin mempunyai tendensi, merasa bahwa dia tidak dapat menentukan kehidupannya sendiri. 
3. Orang dewasa lebih suka menerima saran-saran dari pada digurui 
4. Orang dewasa lebih memberi perhatian pada hal-hal yang menarik bagi dia dan menjadi kebutuhannya 
5. Orang dewasa lebih suka dihargai dari pada diberi hukuman atau disalahkan 
6. Orang dewasa yang pernah mengalami putus sekolah, mempunyai kecendrungan untuk menilai lebih rendah kemampuan belajarnya 
7. Apa yang biasa dilakukan orang dewasa, menunjukkan tahap pemahamannya 
8. Orang dewasa secara sengaja mengulang hal yang sama 
9. Orang dewasa suka diperlakukan dengan kesungguhan iktikad yang baik, adil dan masuk akal 
10. Orang dewasa sudah belajar sejak kecil tentang cara mengatur hidupnya. Oleh karena itu ia lebih suka melakukan sendiri sebanyak mungkin 
11. Orang dewasa menyenangi hal-hal yang praktis 
12. Orang dewasa membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat akrab dan menjalon hubungan dekat dengan teman baru. 

F. Karakteristik Pengajar Orang Dewasa 

Seorang pengajar orang dewasa haruslah memenuhi persyaratan berikut : 

1. Menjadi anggota dari kelompok yang diajar 
2. Mampu menciptakan iklim untuk belajar mengajar 
3. Mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi, rasa pengabdian dan idealisme untuk kerjanya 
4. Menirukan/mempelajari kemampuan orang lain 
5. Menyadari kelemahannya, tingkat keterbukaannya, kekuatannya dan tahu bahwa di antara kekuatan yang dimiliki dapat menjadi kelemahan pada situasi tertentu. 
6. Dapat melihat permasalahan dan menentukan pemecahannya 
7. Peka dan mengerti perasaan orang lain, lewat pengamatan 
8. Mengetahui bagaimana meyakinkan dan memperlakukan orang 
9. Selalu optimis dan mempunyai iktikad baik terhadap orang 
10. Menyadari bahwa “perannya bukan mengajar, tetapi menciptakan iklim untuk belajar” 
11. Menyadari bahwa segala sesuatu mempunyai segi negatif fan pisitif. 

BIODATA SINGKAT 
Nama : Supriadi, M.Pd 
NIP : 150326343 
Tmp/Tgl Lhr : Sei. Penuh Kerinci/5 Oktober 1972 
Pekerjaan : Dosen Perencanaan Pengajaran STAIN Bukittinggi Sumbar 

Saya SUPRIADI, M.Pd setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). . 

CATATAN:
Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.

 

SLTP&SDHomePageSekolahMenengahHomePagePerguruanTinggiHomePageCariPekerjaan?-IndoStaffKomputer,Internet,TeknologiSekola2,Siswa/i,EraPerkembangan  

Print Halaman Ini

 

Posted by on 19 June 2010 in Academic

Leave a comment

tentang komunikasi dalam bisnis

 

Posted by on 19 June 2010 in Academic

Leave a comment

pengembangan masyarakat

HOME  >  INFORMASI PERUSAHAAN  >  TATA KELOLA PERUSAHAAN

Pengembangan Masyarakat

ITM menjalankan berbagai program Pengembangan Masyarakat sebagai wujud komitmennya terhadap pemenuhan CSR serta untuk memenuhi ketentuan dan
peraturan Pemerintah yang ada.

Program-program Pengembangan Masyarakat yang dilakukan ITM dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori. Kategori pertama adalah program pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk menigkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat dengan memberikan akses kepada sumber daya modal maupun peningkatan keterampilan, serta dukungan pengembangan ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya setempat.

Kategori kedua adalah aktivitas pembangunan sosial yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat melalui pengadaan fasilitas kesehatan dan pendidikan maupun program-program pelestarian budaya dan kesenian lokal. Sedangkan kategori ketiga adalah pelestarian lingkungan, terutama melalui dukungan kepada Taman Nasional Kutai, pendidikan lingkungan untuk anakanak, program kesadaran lingkungan, dan program penghijauan.

Penentuan aktivitas program dilakukan dengan pertama-tama mengadakan survai mengenai kondisi dan sumber daya lokal yang tersedia, yang dilakukan oleh komunitas yang bersangkutan dengan pengarahan dari personilCommunity Development Officer (CDO) ITM. Hasil survei tersebut menjadi dasar bagi proses pemilihan program prioritas oleh FKM yang dibentuk di masing-masing desa dampingan. FKM beranggotakan perwakilan masyarakat dan tokoh atau pemuka masyarakat yang dipilih secara demokratis melalui rapat desa. FKM di setiap lokasi site mengadakan pertemuan rutin dua kali dalam setahun untuk membahas program prioritas dan program kerja yang direvisi dari waktu ke waktu sesuai dengan ketersediaan anggaran, jangka waktu program dan tenaga pelaksana yang diperlukan.

Pertemuan FKM membahas berbagai usulan program yang masuk untuk memastikan bahwa program-program tersebut mewakili kebutuhan aktual masyarakat dan akan memberikan sebanyak mungkin manfaat bagi warga masyarakat. Dengan demikian, pemilihan program dilakukan berdasarkan kesepakatan warga masyarakat melalui perwakilannya dalam FKM, dan bukannya atas kemauan individu atau kelompok kecil tertentu.

Dari sudut pandang ITM maupun pemerintah setempat, keberadaan FKM juga merupakan sarana untuk menjaga harmoni sosial di masyarakat terkait dengan aktivitas Perusahaan, sekaligus untuk mendorong menumbuhkan kemandirian komunitas di sekitar areal operasional Perusahaan. Komunitas-komunitas ini nantinya diharapkan dapat merencanakan, melaksanakan dan mengawasi pembangunan desa atau wilayah atas inisiatif sendiri, dengan praktik-praktik pembangunan berkelanjutan menggunakan sumber daya dan potensi setempat. Pada gilirannya, ini akan mengurangi ketergantungan komunitas-komunitas tersebut pada Perusahaan.

Salah satu program bidang pembangunan ekonomi pada tahun 2009 adalah pembentukan suatu Lembaga Keuangan Mikro (LKM) oleh PT Indominco Mandiri bekerja sama dengan PT Permodalan Nasional Madani, menyediakan modal awal sebesar Rp 100 juta kepada LKM yang menjalankan aktivitas koperasi simpan-pinjam. Saat ini, sekitar 65 anggota telah tercatat melakukan berbagai aktivitas ekonomi yang produktif dengan bantuan pinjaman modal dari LKM.

ITM juga telah mengembangkan Community Development Management Information System, sebuah perangkat sistem informasi on-line, untuk memantau kemajuan program-program Pengembangan Masyarakat di berbagai lokasi. Salah satu kunci keberhasilan programprogram Pengembangan Masyarakat yang dijalankan oleh Perusahaan adalah partisipasi aktif dari pihak warga masyarakat dan Pemerintah Daerah, selain tentunya kepedulian dan dukungan dari Perusahaan sendiri.

Attachment Size
Bubuhan_1st_edition.pdf 1.5 MB
Bubuhan_2nd_edition.pdf 1.17 MB
Bubuhan_3rd_edition.pdf 1.37 MB
Bubuhan_5th_edition.pdf 1.13 MB
Bubuhan_12th edition.pdf 689.57 KB
 

Posted by on 19 June 2010 in Academic

Leave a comment